RSS

Contoh RPP

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP)

 

 

  1. IDENTITAS MATA PELAJARAN
    1. Nama Sekolah                         :  SMA Negeri Simpang Semambang
    2. Kelas                                       :  XII
    3. Semester                                  : Gazal
    4. Program                                   : IPA
    5. Mata Pelajaran                         : Matematika
    6. Jumlah Pertemuan                   : 2 kali pertemuan

 

  1. STANDAR KOMPETENSI
    1. Menggunakan konsep integral dalam pemecahan masalah

 

  1. KOMPETENSI DASAR

1.1 Memahami konsep integral tak tentu dan integral tentu.

 

  1. INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI
  • Mengenal arti integral tak tentu.
  • Menurunkan sifat-sifat integral tak tentu dari turunan.
  • Menentukan integral tak tentu fungsi aljabar dan trigonometri.
  • Mengenal arti integral  tentu.
  • Menentukan integral tentu dengan menggunakan sifat-sifat integral.
  • Menyelesaikan  masalah  sederhana  yang  melibatkan integral  tentu dan integral tak tentu.

 

 

  1. TUJUAN PEMBELAJARAN

Siswa dapat menentukan integral tak tentu dan integral tentu

 

  1. MATERI AJAR
  • Aturan rantai untuk mencari turunan fungsi.
  • Pengertian integral
  • Integral tak tentu.
  • Integral Tertentu.

 

  1. 7.    ALOKASI WAKTU

2 kali pertemuan ( 4 x 45  menit )

  1. METODE PEMBELAJARAN

Ekspositori dan penugasan .

  1. KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 ( 2 x 45 menit )

No.

Kegiatan Belajar

Waktu

(Menit)

1. Pendahuluan

–       mengingat kembali materi mengenai turunan dari fungsi aljabar dan fungsi  trigonometri.

–       Apabila materi dikuasai dengan baik, maka peserta didik diharapkan dapat mengetahui cara menentukan integral tak tentu dari fungsi aljabar dan trigonometri.

 

 

15’

2. Kegiatan Inti( Eksplorasi, elaborasi dan Konfirmasi )

–      Peserta didik diberikan stimulus berupa pemberian materi oleh guru mengenai cara menentukan integral tak tentu dari fungsi aljabar dan trigonometri , kemudian antara peserta didik dan guru mendiskusikan materi tersebut.

–      Peserta didik mengkomunikasikan secara lisan atau mempresentasikan mengenai cara menentukan integral tak tentu dari fungsi aljabar dan trigonometri.

–      Peserta didik dan guru secara bersama-sama membahas contoh dalam buku paket.

–      Peserta didik mengerjakan beberapa soal mengenai penentuan.

–      Peserta didik dan guru secara bersama-sama membahas jawaban soal-soal pada buku     paket.

–      Peserta didik mengerjakan beberapa soal latihan dalam buku paket sebagai tugas individu.

 

65’
3. Penutup

–      Peserta didik membuat rangkuman dari materi.

–      Peserta didik dan guru melakukan refleksi.

–      Peserta didik diberikan pekerjaan rumah (PR).

 

10’

 

 

    Pertemuan 2 ( 2 x 45 menit)        

No.

Kegiatan Belajar

Waktu

(Menit)

1. Pendahuluan

–       mengingat kembali materi mengenai turunan fungsi aljabar dan trigonometri   dan aturan pengintegralan ( integral tak tentu).

–       Apabila materi dikuasai dengan baik, maka peserta didik diharapkan dapat menjelaskan integral tertentu sebagai luas daerah dibidang datar. menentukan integral tentu dengan menggunakan sifat-sifat (aturan) integral.

 

15’

2. Kegiatan Inti( Eksplorasi, elaborasi dan Konfirmasi )

–      Peserta didik diberikan stimulus berupa pemberian materi oleh guru mengenai keadaan lingkungan yang berhubungan dengan luas daerah serta penjelasan integral tertentu sebagai luas daerah dibidang datar dan menentukan integral tentu dengan menggunakan sifat-sifat (aturan) integral.

–      Peserta didik mengkomunikasikan secara lisan atau mempresentasikan penjelasan mengenai integral tertentu sebagai luas daerah dibidang datar dan menentukan integral tentu dengan menggunakan sifat-sifat (aturan) integral.

–      Peserta didik dan guru secara bersama-sama membahas contoh dalam buku paket mengenai perhitungan integral tentu dengan menggunakan sifat-sifat (aturan ) integral.

–      Peserta didik mengerjakan beberapa soal mengenai penentuan.

–      Peserta didik dan guru secara bersama-sama membahas jawaban soal-soal.

–      Peserta didik mengerjakan beberapa soal latihan dalam buku sebagai tugas individu.

65’
3. Penutup

–      Peserta didik membuat rangkuman dari materi.

–      Peserta didik dan guru melakukan refleksi.

–      Peserta didik diberikan pekerjaan rumah (PR).

 

10’
  1. PENILAIAN HASIL BELAJAR

Teknik                           :  Tugas individu, kuis, ulangan harian.

Bentuk Instrumen         :  Uraian singkat, pilihan ganda.

Contoh Instrumen         :

 

 

  1.  Tentukan
  2.  Hitunglah ?

 

Penyelesaian :

  1.   Turunan dari

misalkan  dan

n

=

=

=

 

2.            =   +

=   3 + 7

 

=

=

=

 

3.         =

=

=

=

Jadi,   =

 

 

  1. SUMBER BELAJAR

 

–             Buku paket Matematika SMA

–             Buku referensi lain.

 

 

 

                                                                                       Sp Semambang,        Juli   2011

Mengetahui                                                                   Guru mata Pelajaran        

Kepala Sekolah ,                                                             

 

 

 

 

 

            Hendra Wadi, M. Pd                                                            Hendra Wadi, M. Pd

            NIP 19750713 199903 1 002                                                 NIP 19750713 199903 1 002

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 5, 2011 in Uncategorized

 

Hari Guru

Setiap tanggal 25 November, diperingati hari Guru secara Nasional di seluruh Indonesia. Salah satu  ( satu-satunya ) organisasi yang merupakan tempat berkumpulnya para guru., menyatakan bahwa mereka telah melakukan perjuangan terhadap nasib guru-guru di Indonesia. Pernyataan tersebut benar atau tidak hanya Tuhan lah Yang Maha Tahu.

Dengan di berlakukannya Undang-Undang No. 14 Tahun 2005, tentang Guru dan Dosen, sedikit memberikan harapan yang lebih terhadap guru. Dalam Undang-undang tersebut telah memotivasi guru untuk menuju yang lebih baik. Sebagai Contoh bahwa pendidikan kualifikasi guru, mulai dari guru TK sampai dengan guru  SMA minimal Strata I ( S – 1), hal ini telah memicu sebagian besar guru ( terutama guru SD) untuk mengikuti Progran PAKSA SARJANA. …. besok dilanjut lagi…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 3, 2008 in Uncategorized

 

MATEMATIKA KONSTRUKTIVISTIK

Pembelajaran Matematika Beracuan Konstruktivisme

Oleh : Hendra Wadi

Guru SMA N 1 Muara Beliti

Model pembelajaran konstruktivisme sering diartikan sepenuhnya berseberangan dengan model pembelajaran behavior. Pembelajaran beracuan psikologi behavioristik menekankan pada perubahan tingkah laku siswa setelah memperoleh perlakuan pembelajaran. Pembelajaran dipandang sebagai suatu proses perubahan atau kondisi tingkah laku yang dapat diamati sebagai hasil respon individu terhadap rangsang yang terjadi di suatu lingkungan. Benak siswa dipandang sebagai kapal kosong, suatu tabula rasa yang dapat diisi atau sebagai kaca yang merefleksikan realita.

Pembelajaran beracuan behaviorisme berpusat pada upaya siswa mengumpulkan pengetahuan dan guru berupaya mentransfernya. Dalam mentransfer pengetahuan ini, menjadikan siswa bersifat pasif, guru mengarahkan dan mengkontrol kegiatan, dan guru mendominasi kelas dengan pola mengajar sebagai berikut: informasi-contoh soal-latihan sesuai contoh. Pembelajaran matematika beracuan behaviorisme dipandang kurang berhasil dan menjadikan siswa bersifat menghapal matematika (Hudoyo, 2005; Marpaung, 2003).

Pembelajaran menurut konstruktivisme pengetahuan dibangun secara aktif oleh individu berdasar pengalaman sendiri (Doolittle dan camp, 1999). Menurut Nodding, 1990) konstruktivisme dapat dikarakteristikkan sebagai posisi kognisi. Konstruktivisme mempercayai bahwa pengetahuan dikonstruksi dan instrumen untuk mengkonstruksi termasuk struktur kognisi yang bersifat bawaan (Chomky dalam Nodding, 1990) atau dirinya sendiri menghasilkan konstruksi pengembangan (Piaget dalam Nodding, 1990).

Melalui pengalaman memungkinkan siswa menciptakan skema di benaknya. Skema-skema ini dapat berubah, diperluas melalui proses asimilasi dan akomodasi. Ide pokok yang mendasari teori pembelajaran konstruktivisme bukan baru. Diawali oleh pendapat Socrates yang menyatakan terdapat kondisi dasar untuk pembelajaran di dalam kognisi individu. Tetapi yang mempengaruhi perkembangan konstruktivis sampai saat ini adalah teori perkembangan intelektual Piaget (Kanuka dan Anderson dalam Clark, 2000).

Khususnya, Piaget adalah orang pertama yang menekankan proses perubahan konsep sebagai interaksi antara struktur kognitif yang dimiliki dan pengalaman baru. Selama tahun 1930 sampai 1940, konstruktivisme menjadi sorotan para pendidik di beberapa sekolah negeri di Amerika. Menurut teori konstruktivisme ini penekanan kegiatan pada siswa dari pada pada guru. Guru sebagai fasilitator atau pelatih yang membantu siswa mengkostruksi konsep-konsep dan pemecahan masalah secara mandiri. Menurut Clark (2000) penerapan konstruksivisme di sekolah terbagi menjadi dua yaitu konstruktivisme kognitif dan konstruktivisme sosial.

Pendapat Piaget ini dikenal dengan konstruktivisme kognitif, sampai sekarang banyak digunakan sebagai acuan dalam pembelajaran matematika. Konstruktivisme kognitif memiliki dua bagian utama: komponen umur dan tahapannya yang dijadikan untuk memprediksi apakah siswa dapat atau tidak dapat memahami matematika pada usia yang berbeda, dan teori perkembangan kognitif yang menjelaskan bagaimana kecakapan kognitif siswa berkembang (Clark, 2000).

Teori Piaget tentang perkembangan kognitif menyatakan bahwa manusia tidak dapat “diberi informasi” yang kemudian secara tiba-tiba dapat memahami dan menggunakannya, tetapi manusia harus “mengkonstruksi” pengetahuan mereka sendiri. Siswa membangun metematika melalui pengalaman. Konstruktivisme kognitif berbasis pada dua ide “konstruktivistik”. Pertama, ide bahwa siswa belajar secara aktif mengkonstruksi pengetahuan, tidak hanya dengan cara menerima informasi ke benaknya. Kedua, ide bahwa siswa belajar lebih efektif jika mereka terlibat dengan “mengkonstruksi” secara pribadi makna matematika (Murphy, 1997).

Pandangan konstruktivisme radikal berdasar pandangan Piaget. Glasersfled (1984) menyatakan banyak ide yang diambil dari Piaget dan mempengaruhi pandangannya sejak tahun 1970. Von Glasersfeld memandang konstruktivisme berdasar konsepsi-konsepsi pengetahuan. Berkaitan dengan pemerolehan pengetahuan pendapat von Glasersfeld berbeda secara radikal dengan konsepsi pemerolehan pengetahuan tradisional terutama dalam kaitan antara pengetahuan dan realitas. von Glasersfeld berpendapat bahwa pengetahuan dan realitas tidak memiliki nilai mutlak, dan pengetahuan diperoleh secara aktif dan dikonstruksi melalui indera atau melalui komunikasi. Gagasan tidak dapat dikomunikasikan maknanya jika disampaikan secara langsung kepada siswa, melainkan siswa sendiri yang membentuk maknanya.

Pada tahun 1930 Lev Vygotsky, ahli filsafat dan psikolog Rusia, dikaitkan dengan konstruktivis sosial. Ia menyatakan adanya pengaruh konteks sosial dan budaya dalam pembelajaran dan juga mendukung suatu model pembelajaran penemuan (Murphy, 1997). Model pembelajaran beracuan konstruktivisme sosial menuntut guru berperan aktif dan kecakapan siswa berkembang secara alami melalui berbagai jalur penemuan dalam aktivitas sosial. Model pembelajaran matematika beracuan konsturktivisme sosial, misalnya pembelajaran matematika kooperatif.

Pembelajaran matematika beracuan konstruktivisme sosial lebih menekankan pada hubungan antara individu dan lingkungan sosial dalam pembentukan pengetahuan. Heylighen (dalam Murphy, 1997) menjelaskan bahwa konstruktivisme sosial memandang kesepakatan antara subyek-subyek yang berbeda sebagai kriteria akhir untuk menentukan pengetahuan. “kebenaran” atau “realitas” akan disetujui jika dalam mengkonstruksi pengetahuan disepakati oleh banyak orang dalam kelompok sosial.

Doolittle dan Camp (1999) berpendapat bahwa akhir-akhir ini ada kecenderungan model pembelajaran dikembangkan berdasar konstruktivisme radikal dan Dalam penelitian ini dikembangkan model pembelajaran matematika beracuan konstruktivisme di samping mengacu pada ketiga epistemologi von Glasesrsfeld, yaitu konstruktivisme radikal, juga mengacu sebagian epsitemologi keempat yang dikemukakan Doolittle dan Camp (1999). Dalam pembelajaran matematika dirancang memuat kegiatan belajar yang melibatkan siswa menggunakan pola pikir induktif-deduktif. Pola pikir induktif digunakan terutama dalam proses memahami suatu konsep atau generalisasi. Pola pikir deduktif digunakan dalam pemecahan masalah misalnya dalam soal pembuktian. Namun karena beberapa pemecahan masalah memerlukan pemecahan dengan pola pikir induktif, maka dalam dalam penelitian ini menggunakan istilah penggunaan pola pikir induktif-deduktif.

Von Glasersfeld menggolongkan pandangan Piaget dalam konstruktivisme sebab bagi Piaget pengetahuan bukan representasi dari dunia nyata, tetapi merupakan kumpulan struktur-struktur konspetual yang diperoleh melalui adaptasi, dan memperoleh pengetahuan melalui pengalaman sendiri (von Galsersfeld dalam Boudorides, 1998). Boudourides (1998) menyatakan bahwa saat ini hampir semua matematikawan mengadopsi konstruktivisme Piaget, yaitu konstruktivisme yang mengacu pada psikologi kognitif Piaget.

Piaget berkaitan dengan struktur intelektual, melibatkan dua aspek konten dan fungsi. Konten mengacu pada pola tingkah laku khusus dari anak sebagai respon terhadap bermacam-macam masalah atau situasi yang dihadapi. Adapun fungsi mengacu pada cara bagaimana suatu organisme membuat mental berkembang (Hudojo, 2003: 60). Menurut Hudojo (2003) istilah “organisasi” melukiskan kemampuan organisma mengsistematiskan atau mengorganisasikan proses-proses fisik atau psikologik ke dalam sistem yang berkaitan. Berkaitan dengan pembelajaran, siswa memproses dan mengorganisir informasi dalam benaknya dalam bentuk skema (scheme). Piaget (dalam Boudorides, 1998) menyatakan pengorganisasian dalam benak membentuk skema.

Slavin (2000: 30) menyatakan siswa mendemonstrasikan pola tingkah laku dan pemikiran yang disebut skema. Hudojo (2003) menyatakan skema adalah pola tingkah laku yang dapat berulang kembali. Jadi mengacu pada kedua pendapat ini skema adalah pola tingkah laku dan pemikiran yang dapat berulang kembali. Penguasaan terhadap suatu skema baru mengindikasikan adanya perubahan di dalam struktur mental siswa. Hudojo (2003: 59) berpendapat sebenarnya skema itu adalah struktur kognitif yang digunakan oleh siswa untuk menyesuaikan dengan lingkungan dan mengorganisasikannya.

Adaptasi adalah suatu proses penyesuaian skema dalam merespon lingkungan melalui asimilasi atau akomodasi. Asimilasi adalah proses menyerap pengalaman baru berdasar pada skema yang sudah dimiliki dan akomodasi adalah proses menyerap pengalaman baru dengan cara memodifikasi skema yang sudah ada atau bahkan membentuk skema yang benar-benar baru (Hudojo, 2003: 60).

Dalam pembelajaran matematika, siswa mengkonstruksi matematika melalui proses adaptasi dan organisasi. Perkembangan struktur mental siswa bergantung pada pengetahuan yang diperoleh siswa melalui proses asimilasi dan akomodasi. Melalui asimilasi siswa memperoleh pemahaman matematika berdasar pada skema yang sudah dimiliki. Masuknya skema-skema baru dalam struktur mental siswa terutama tergantung pada akomodasi dalam menyerap dan memahami konsep, prinsip, atau struktur matematika dan mengorganisasikannya dalam struktur mental siswa.

Konstruktivisme dalam bidang pendidikan sering disebut konstruktivisme psikologik, dan terdiri dari dua tipe, yaitu konstruktivisme individu dan sosial (Pihilips dalam Boudourides, 1998). Konstruktivisme yang mengacu pada teori kognitif Piaget dan epistemologi konstruktivisme yang dikemukakan oleh von Glasersfeld termasuk tipe konstruktivisme individual (Boudouris, 1998: 1).

Meskipun pembelajaran matematika beracuam konstruktivisme yang mengacu pada psikologi kognitif Piaget tergolong dalam konstruktivisme individu, namun menurut Slavin (2000: 256) dan Copeland (1974: 32), Piaget tidak mengabaikan pentingnya interaksi sosial dalam mengkonstruk matematika. Oleh karena itu, pembelajaran matematika konstruktivistik dalam penelitian ini menekankan pada aktivitas siswa secara individu dalam mengkonstruk matematika, tetapi juga memberi peluang kepada siswa untuk berinteraksi sosial. Interaksi sosial yang terjadi di kelas dipandang sebagai aktivitas yang mendukung belajar siswa dalam mengkonstruksi matematika. Interaksi sosial ini dapat berbentuk saling tukar pendapat atau diskusi antar siswa, atau kegiatan belajar lainnya yang menjadikan terjadinya komunikasi lisan maupun tertulis antar siswa atau antara guru dan siswa.

Dalam interaksi sosial ini kemungkinan terjadi siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar terbantu oleh teman atau gurunya. Forman dan McPhail (dalam Salvin, 2000: 46) menyatakan tutor oleh teman yang lebih pandai paling efektif dalam meningkatkan perkembangan ZPD (Zone of Proximal Development). Konsep ZPD Vigotsky berdasar pada ide bahwa perkembangan pengetahuan siswa ditentukan oleh keduanya yaitu apa yang dapat dilakukan oleh siswa sendiri dan apa yang dilakukan oleh siswa ketika mendapat bantuan orang yang lebih dewasa atau teman sebaya yang lebih kompeten (Daniels dan Wertsch dalam Slavin 2000: 47). Slavin (2000) menyatakan bahwa pendekatan pembelajaran Vigotsky menekankan pada scaffolding. Wood, Bruner, dan Ross (dalam Slavin: 2000: 47) menyatakan:

Scaffolding is a tactic for helping the child in his or her zone of proximal development in which the adult provide hint and prompt at different level.

Artinya scaffolding adalah suatu taktik untuk membantu anak dalam ZPD nya yang dilakukan oleh orang lebih dewasa dengan memberi saran dan petunjuk di tingkat berbeda.

Dalam interaksi sosial dikelas, ketika terjadi saling tukar pendapat antar siswa dalam memecahkan suatu masalah, siswa yang lebih pandai memberi bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan berupa petunjuk bagaimana cara memecahkan masalah tersebut, maka terjadi scaffolding, siswa yang mengalami kesulitan tersebut terbantu oleh teman yang lebih pandai. Ketika guru membantu secukupnya kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam belajarnya, maka terjadi scaffolding.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 12, 2008 in Uncategorized

 

Pembelajaran Matematika Dengan Metode Ekspositori


Pembelajaran Integral Tak Tentu dengan Menggunakan Metode Ekspositori

Kelas XII IA SMA N 1 Muara Beliti

Oleh : Hendra Wadi

1. PENDAHULUAN

Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan mengembangkan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang dan matematika diskrit. Untuk menguasai dan mencipta teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini.

Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif.

Untuk menghadapi keadaan demikian yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif tersebut artiya siswa harus memiliki kemampuan matematika. Kemampuan matematika yang harus dimiliki oleh siswa adalah kemampuan minimal yang diajarkan di sekolah tempat mereka belajar. Dalam pelaksanaan Pembelajaran matematika dalam kelas, guru harus dapat membantu siswa untuk belajar matematika. Pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menciptakan suasana atau memberikan pelayanan agar murid-murid belajar. Dalam menciptakan suasana atau pelayanan, hal yang esensial bagi guru adalah memahami bagaimana murid-muridnya memperoleh pengetahuan dari kegiatan belajarnya.  Jika guru dapat memahami proses pemerolehan pengetahuan, maka ia dapat menentukan strategi pembelajaran yang tepat bagi murid-muridnya ( Rusdi A sirod).

Adapun tujuan pembelajaran mata pelajaran matematika SMA ( Standar Kompetensi, 2006) adalah agar peserta didik memiliki kemampuan sbb :

1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah

2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika

3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh

4. Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah

5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

Untuk mencapai tujuan pembelajaran matematika SMA tersebut, diperlukan kemampuan seorang guru matematika dalam menggunakan metode pembelajaran. Salah satunya adalah dengan menggunakan metode pengajaran ekspositori.

2. TEORI BELAJAR-MENGAJAR MATEMATIKA YANG RELEVAN

Teori belajar mengajar matematika yang relevan dengan metode ekspositori dalam pembelajaran matematika antara lain :

a. Teori Gagne

Dalam belajar matematika ada 2 objek yang dapat diperoleh siswa, objek langsung dan objek tidak langsung. Objek tidak langsung antara lain adalah : kemampuan menyelidiki dan memecahkan masalah, mandiri ( belajar, bekerja, dan lain-lain ), bersikap positif terhadap matematika, tahu bagaimana semestinya belajar.

Objek langsung adalah fakta, keterampilan, konsep dan prinsip.

· Fakta . Contoh fakta adalah : angka/lambang bilangan, sudut, ruas garis, symbol notasi

· Keterampilan, keterampilan adalah kemampuan memberikan jawaban yang benar dan cepat, Misalnya : Membagi sebuah ruas garis yang sama panjang, melakukan pembagian cara singkat, dll

· Konsep, adalah ide abstrak yang memungkinkan kita mengelompokkan benda-benda (objek) ke dalam contoh dan bukan contoh.

· Prinsip, prinsip adalah objek yang paling abstrak, dapat berupa sifat, dalil, teori, dll.

b. Teori Ausubel

David Ausubel, termasuk ke dalam aliran tingkah laku. Ia terkenal dengan belajar bermaknanya dan penting adanya pengulangan sebelum pelajaran dimulai. Ausubel membedakan belajar menerima dengan belajar menemukan. Pada belajar menerima bentuk akhir dari yang diajarkan itu diberikan sedangkan pada belajar menemukan , bentuk akhir itu harus dicari oleh siswa. Misal, bila kita mengajarkan rumus akar persamaan kuadrat, pada belajar menerima rumus akar persamaan kuadrat itu diberitahukan. Sedangkan pada belajar menemukan, rumus itu harus ditemukan oleh siswa.

Ausubel juga membedakan antara belajar menghafal dengan belajar bermakna. Belajar menghafal , siswa belajar melalui menghafalkan apa yang sudah diperoleh. Belajar bermakna bermakna adalah belajar yang untuk meahami apa yang sudah diperolehnya itu dikaitkan dengan keadaan lain sehingga belajarnya itu lebih bermakna.

Ausubel berpendapat bahwa baik belajar menemukan maupun belajar menerima ( dengan metode ekspositori) , kedua-duanya dapat menjadi belajar mengafal atau belajar bermakna.

Contoh : dalam mempelajari konsep dalil pyhtagoras tentang segitiga siku-siku, mungkin bentuk terakhir <!–[if gte msEquation 12]>c2=b2+c2<![endif]–> sudah disajikan (belajar menerima), tetapi siswa memahami rumus itu selalu dikaitkan dengan sisi-sisi sebuah segitiga siku-siku; jadi ia belajar secara bermakna. Siswa lain memahami <!–[if gte msEquation 12]>c2=b2+c2<![endif]–> dari pencarian ( belajar menemukan ) , tetapi bila ia hanya menghafalkan <!–[if gte msEquation 12]>c2=b2+c2<![endif]–> tanpa dikaitkan dengan sisi-sisi segitiga siku-siku, maka terjadinya ia menghafal.

3. CONTOH RENCANA PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan : SMA

Mata Pelajaran : Matematika

Kelas / Semester : XII IPA / 1

Topik : Integral

Sub Topik : Integral tak tentu

Waktu : 2 x 45 menit

I. Standar Kompetensi

· Menggunakan konsep integral dalam pemecahan masalah

II. Kompetensi Dasar

· Memahami konsep integral tak tentu dan integral tertentu

III. Indikator Pencapaian

· Siswa diharapkan dapat mengenal konsep dasar integral tak tentu

· Siswa diharapkan dapat memahami konsep dasar integral tak tentu

· Siswa diharapkan dapat menggunakan konsep integral tak tentu

IV. Sumber / Alat Pembelajaran

· Buku Matematika (Buku Siswa)

· LKS buatan guru

V. Alat / Bahan

· Spidol, pena, pensil, penghapus, dan kertas

VI. Kegiatan Pembelajaran

· Model Pembelajaran : Penemuan terbimbing

· Metode : ekspositori

Pelaksanaan Pembelajaran

A. Pendahuluan (10 menit)

ü Guru menyampaikan tujuan pembelajaran

ü Guru melakukan apersepsi dengan cara mengaitkan materi terdahulu (konsep turunan)

ü Guru membagikan LKS ke masing-masing siswa

B. Kegiatan Inti (70 menit)

ü Secara peorangan, siswa diminta menyelesaikan LKS 1 yang berhubungan dengan konsep integral, dan guru sebagai fasilitator

ü Beberapa siswa diminta menyajikan hasil kerjanya

ü Guru membimbing siswa untuk menarik kesimpulan

ü Secara perorangan, siswa diminta menyelesaikan LKS 2 (soal-soal penggunaan konsep integral).

ü Beberapa siswa diminta menyajikan hasil kerjanya

ü Guru membimbing siswa untuk menarik kesimpulan

C. Penutup (10 menit)

ü Guru melakukan refleksi terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan

VII. Penilaian

· Penilaian Proses

Diskusi

Aktivitas individual

Presentasi

· Penilaian hasil

Lembar jawaban LKS

Lembar jawaban soal-soal

PR

Penilaian

1, Tentukan integral tak tentu dari fungsi berikut :

a. F’(x) = 3

b. F’(x) = x2

2. Jalan menuju puncak memiliki kemiringan 4x – 3. Tentukan ketinggian pada jarak 100 meter dari posisi awal sebelum jalan mendaki?


Indikator :

Mengenal dan memahami konsep dasar integral tak tentu

Nama :

Kelas :

Hari/tgl :

MATERI TURUNAN

F(x) = 3 maka f’(x) = …

F(x) = x3 maka f’(x) = …

F(x) = xn maka f’(x) = …

F(x) = 5 x4 + 5 maka f’(x) = …

F(x) = axn maka f’(x) = …

F(x) = axn + b maka f’(x) = …

Masih ingat gak

Diskusikan LKS berikut dengan teman sebangkumu. !

KESIMPULAN

Jika f’(x) atau disimbolkan untuk turunan

Maka F(x) = disimbolkan untuk integral.

Maka ….. dan ….

MATERI INTEGRAL

F’(x) = 0 maka F(x) = ….

F’(x) = 3 maka F(x) = ….

F’(x) = x2 maka F(x) = ….

F’(x) = 5 x4 + 3 maka F(x) = ….

F’(x) = a xn maka F(x) = …


Indikator :

Menggunakan konsep integral tak tentu

Jalan menuju puncak memiliki kemiringan 4x – 3. Tentukan ketinggian pada jarak 100 meter dari posisi awal sebelum jalan mendaki?

Diskusikan LKS ini dengan teman sebangkumu

Perubahan suhu


Suhu pada hari tertentu yang diukur pada bandara sebuah kota adalah berubah setiap waktu dengan laju T’(t) = 0,15 t2 –t dengan t diukur dalam jam. Jika suhu pada jam 6 pagi adalah 24o C. berapakah suhu pada jam 10 pagi


Kecepatan sebuah pesawat terbang dalam meter/detik dituliskan dengan v(t) = -t2 +64t +40. Tentukan ketinggian pesawat setelah 30 detik dari keberangkatan ?





Penyelesaian Soal 1 :

Gimana

Nich…..

Penyelesaian Soal 2:

Penyelesaian Soal 3:


DAFTAR PUSTAKA

Ernest, P. 1991. The Philosophy of Methematics Education. London: Falmer

Hudojo, Herman. 1988. Mengajar Belajar Matematika. Jakarta : Proyek Pengembangan LPTK.

Krismanto, al. 2003. Beberapa Teknik, Model, dan Strategi dal Pembelajaran Matematika. Makalah pelatihan Instruktur/pengembang SMU tanggal 28 Juli s.d 10 Agusus 2003 di PPPG Matematika Yogyakarta.

Resnick, Lauren B dan Ford Wendy W. 1981. The Psychology of Mathematics For Instruction. New Jersey : Lawrence Erlbaum Associates, Pt

Ruseffendi. 1988. Pengantar Kepada Guru Membantu Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk meningkatkan CBSA. Bandung : Tarsito.

Siroj, Rusdy A. Cara Seseorang Memperoleh Pengetahuan Dan Implikasinya Pada Pembelajaran Matematika. tersedia Pada : http://www.depdiknas.go.id/jurnal/43/rusdy-a-siroj.htm

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Juni 11, 2008 in Uncategorized

 

model-model pembelajaran

Model-model Pembelajaran

Untuk membelajarkan siswa sesuai dengan cara-gaya belajar mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal ada berbagai model pembelajaran. Dalam prakteknya, kita (guru) harus ingat bahwa tidak ada model pembelajaran yang paling tepat untuk segala situasi dan kondisi. Oleh karena itu, dalam memilih model pembelajaran yang tepat haruslah memperhatikan kondisi siswa, sifat materi bahan ajar, fasilitas-media yang tersedia, dan kondisi guru itu sendiri.

Berikut ini disajikan beberapa model pembelajaran, untuk dipilih dan dijadikan alternatif sehingga cocok untuk situasi dan kjondisi yang dihadapi. Akan tetapi sajian yang dikemukakan pengantarnya berupa pengertian dan rasional serta sintaks (prosedur) yang sifatnya prinsip, modifikasinya diserahkan kepada guru untuk melakukan penyesuaian, penulis yakin kreativitas para guru sangat tinggi.

1. Koperatif (CL, Cooperative Learning).

Pembelajaran koperatif sesuai dengan fitrah manusis sebagai makhluq sosial yang penuh ketergantungan dengan otrang lain, mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama, pembegian tugas, dan rasa senasib. Dengan memanfaatkan kenyatan itu, belajar berkelompok secara koperatif, siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan, pengalaman, tugas, tanggung jawab. Saling membantu dan berlatih beinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniature dari hidup bermasyarakat, dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksu konsep, menyelesaikan persoalan, atau inkuiri. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif), tiap anggota kelompok terdiri dari 4 – 5 orang, siawa heterogen (kemampuan, gender, karekter), ada control dan fasilitasi, dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi.

Sintaks pembelajaran koperatif adalah informasi, pengarahan-strategi, membentuk kelompok heterogen, kerja kelompok, presentasi hasil kelompok, dan pelaporan.

2. Kontekstual (CTL, Contextual Teaching and Learning)

Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah, terbuka, negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling), sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan, motivasi belajar muncul, dunia pikiran siswa menjadi konkret, dan suasana menjadi kondusif – nyaman dan menyenangkan. Pensip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas siswa, siswa melakukan dan mengalami, tidak hanya menonton dan mencatat, dan pengembangan kemampuan sosialisasi.

Ada tujuh indokator pembelajarn kontekstual sehingga bisa dibedakan dengan model lainnya, yaitu modeling (pemusatan perhatian, motivasi, penyampaian kompetensi-tujuan, pengarahan-petunjuk, rambu-rambu, contoh), questioning (eksplorasi, membimbing, menuntun, mengarahkan, mengembangkan, evaluasi, inkuiri, generalisasi), learning community (seluruh siswa partisipatif dalam belajar kelompok atau individual, minds-on, hands-on, mencoba, mengerjakan), inquiry (identifikasi, investigasi, hipotesis, konjektur, generalisasi, menemukan), constructivism (membangun pemahaman sendiri, mengkonstruksi konsep-aturan, analisis-sintesis), reflection (reviu, rangkuman, tindak lanjut), authentic assessment (penilaian selama proses dan sesudah pembelajaran, penilaian terhadap setiap aktvitas-usaha siswa, penilaian portofolio, penilaian seobjektif-objektifnya darei berbagai aspek dengan berbagai cara).

3. Realistik (RME, Realistic Mathematics Education)

Realistic Mathematics Education (RME) dikembangkan oleh Freud di Belanda dengan pola guided reinventiondalam mengkontruksi konsep-aturan melalui process of mathematization, yaitu matematika horizontal (tools, fakta, konsep, prinsip, algoritma, aturan uantuk digunakan dalam menyelesaikan persoalan, proses dunia empirik) dan vertikal (reoorganisasi matematik melalui proses dalam dunia rasio, pengemabngan mateastika).

Prinsip RME adalah aktivitas (doing) konstruksivis, realitas (kebermaknaan proses-aplikasi), pemahaman (menemukan-informal daam konteks melalui refleksi, informal ke formal), inter-twinment (keterkaitan-intekoneksi antar konsep), interaksi (pembelajaran sebagai aktivitas sosial, sharing), dan bimbingan (dari guru dalam penemuan).

4. Pembelajaran Langsung (DL, Direct Learning)

Pengetahuan yang bersifat informasi dan prosedural yang menjurus pada ketrampilan dasar akan lebih efektif jika disampaikan dengan cara pembelajaran langsung. Sintaknya adalah menyiapkan siswa, sajian informasi dan prosedur, latihan terbimbing, refleksi, latihan mandiri, dan evaluasi. Cara ini sering disebut dengan metode ceramah atau ekspositori (ceramah bervariasi).

5. Pembelajaran Berbasis masalah (PBL, Problem Based Learning)

Kehidupan adalah identik dengan menghadapi masalah. Model pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah otentik dari kehidupan aktual siswa, untuk merangsang kemamuan berpikir tingkat tinggi. Kondisi yang tetap hatrus dipelihara adalah suasana kondusif, terbuka, negosiasi, demokratis, suasana nyaman dan menyenangkan agar siswa dap[at berpikir optimal.

Indikator model pembelajaran ini adalah metakognitif, elaborasi (analisis), interpretasi, induksi, identifikasi, investigasi, eksplorasi, konjektur, sintesis, generalisasi, dan inkuiri

6. Problem Solving

Dalam hal ini masalah didefinisikan sebagai suatu persoalan yang tidak rutin, belum dikenal cara penyelesaiannya. Justru problem solving adalah mencari atau menemukan cara penyelesaian (menemukan pola, aturan, atau algoritma). Sintaknya adalah: sajiakn permasalah yang memenuhi criteria di atas, siswa berkelompok atau individual mengidentifikasi pola atau atuiran yang disajikan, siswa mengidentifkasi, mengeksplorasi,menginvestigasi, menduga, dan akhirnya menemukan solusi.

7. Problem Posing

Bentuk lain dari problem posing adaslah problem posing, yaitu pemecahan masalah dngan melalui elaborasi, yaitu merumuskan kembali masalah menjadi bagian-bagian yang lebih simple sehingga dipahami. Sintaknya adalah: pemahaman, jalan keluar, identifikasi kekeliruan, menimalisasi tulisan-hitungan, cari alternative, menyusun soal-pertanyaan.

8. Problem Terbuka (OE, Open Ended)

Pembelajaran dengan problem (masalah) terbuka artinya pembelajaran yang menyajikan permasalahan dengan pemecahan berbagai cara (flexibility) dan solusinya juga bisa beragam (multi jawab, fluency). Pembelajaran ini melatih dan menumbuhkan orisinilitas ide, kreativitas, kognitif tinggi, kritis, komunikasi-interaksi, sharing, keterbukaan, dan sosialisasi. Siswa dituntuk unrtuk berimprovisasi mengembangkan metode, cara, atau pendekatan yang bervariasi dalam memperoleh jawaban, jawaban siswa beragam. Selanjtynya siswa juda diinta untuk menjelaskan proses mencapai jawaban tersebut. Denga demikian model pembelajaran ini lebih mementingkan proses daripada produk yang akan membentiuk pola piker, keterpasuan, keterbukaan, dan ragam berpikir.

Sajian masalah haruslah kontekstual kaya makna secara matematik (gunakan gambar, diagram, table), kembangkan peremasalahan sesuai dengan kemampuan berpikir siswa, kaitakkan dengan materui selanjutnya, siapkan rencana bimibingan (sedikit demi sedikit dilepas mandiri).

Sintaknya adalah menyajikan masalah, pengorganisasian pembelajaran, perhatikan dan catat reson siswa, bimbingan dan pengarahan, membuat kesimpulan.

9. Probing-prompting

Teknik probing-prompting adalah pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian petanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan engetahuan sisap siswa dan engalamannya dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari. Selanjutnya siswa memngkonstruksiu konsep-prinsip-aturan menjadi pengetahuan baru, dengan demikian pengetahuan baru tidak diberitahukan.

Dengan model pembelajaran ini proses tanya jawab dilakukan dengan menunjuk siswa secara acak sehingga setiap siswa mau tidak mau harus berpartisipasi aktif, siswa tidak bisa menghindar dari prses pembelajaran, setiap saat ia bisa dilibatkan dalam proses tanya jawab. Kemungkinan akan terjadi sausana tegang, namun demikian bisa dibiasakan. Untuk mngurang kondisi tersebut, guru hendaknya serangkaian pertanyaan disertai dengan wajah ramah, suara menyejukkan, nada lembut. Ada canda, senyum, dan tertawa, sehingga suasana menjadi nyaman, menyenangkan, dan ceria. Jangan lupa, bahwa jawaban siswa yang salah harus dihargai karena salah adalah cirinya dia sedang belajar, ia telah berpartisipasi

10. Pembelajaran Bersiklus (cycle learning)

Ramsey (1993) mengemukakan bahwa pembelajaran efektif secara bersiklus, mulai dari eksplorasi (deskripsi), kemudian eksplanasi (empiric), dan diakhiri dengan aplikasi (aduktif). Eksplorasi berarti menggali pengetahuan rasyarat, eksplnasi berarti menghenalkan konsep baru dan alternative pemecahan, dan aplikasi berarti menggunakan konsep dalam konteks yang berbeda.

11. Reciprocal Learning

Weinstein & Meyer (1999) mengemukakan bahwa dalam pembelajaran harus memperhatikan empat hal, yaitu bagaimana siswa belajar, mengingat, berpikir, dan memotivasi diri. Sedangkan Resnik (1999) mwengemukan bhawa belajar efektif dengan cara membaca bermakna, merangkum, bertanya, representasi, hipotesis.

Untuk mewujudkan belajar efektif, Donna Meyer (1999) mengemukakan cara pembelajaran resiprokal, yaitu: informasi, pengarahan, berkelompok mengerjakan LKSD-modul, membaca-merangkum.

12. SAVI

Pembelajaran SAVI adalah pembelajaran yang menekankan bahwa belajar haruslah memanfaatkan semua alat indar yang dimiliki siswa. Istilah SAVI sendiri adalah kependekan dari: Somatic yang bermakna gerakan tubuh (hands-on, aktivitas fisik) di mana belajar dengan mengalami dan melakukan; Auditory yang bermakna bahwa belajar haruslah dengan melaluui mendengarkan, menyimak, berbicara, presentasi, argumentasi, mengemukakan penndepat, dan mennaggapi; Visualization yang bermakna belajar haruslah menggunakan indra mata melallui mengamati, menggambar, mendemonstrasikan, membaca, menggunbakan media dan alat peraga; dan Intellectualy yang bermakna bahawa belajar haruslah menggunakan kemampuan berpikir (minds-on) nbelajar haruslah dengan konsentrasi pikiran dan berlatih menggunakannya melalui bernalar, menyelidiki, mengidentifikasi, menemukan, mencipta, mengkonstruksi, memecahkan masalah, dan menerapkan.

13. TGT (Teams Games Tournament)

Penerapan model ini dengan cara mengelompokkan siswa heterogen, tugas tiap kelompok bisa sama bis aberbeda. SDetelah memperoleh tugas, setiap kelompok bekerja sama dalam bentuk kerja individual dan diskusi. Usahakan dinamikia kelompok kohesif dan kompak serta tumbuh rasa kompetisi antar kelompok, suasana diskuisi nyaman dan menyenangkan sepeti dalam kondisi permainan (games) yaitu dengan cara guru bersikap terbuka, ramah , lembut, santun, dan ada sajian bodoran. Setelah selesai kerja kelompok sajikan hasil kelompok sehuingga terjadi diskusi kelas.

Jika waktunya memungkinkan TGT bisa dilaksanakan dalam beberapa pertemuan, atau dalam rangak mengisi waktu sesudah UAS menjelang pembagian raport. Sintaknya adalah sebagai berikut:

a. Buat kelompok siswa heterogen 4 orang kemudian berikan informasi pokok materi dan \mekanisme kegiatan

b. Siapkan meja turnamen secukupnya, missal 10 meja dan untuk tiap meja ditempati 4 siswa yang berkemampuan setara, meja I diisi oleh siswa dengan level tertinggi dari tiap kelompok dan seterusnya sampai meja ke-X ditepati oleh siswa yang levelnya paling rendah. Penentuan tiap siswa yang duduk pada meja tertentu adalah hasil kesewpakatan kelompok.

c. Selanjutnya adalah opelaksanaan turnamen, setiap siswa mengambil kartu soal yang telah disediakan pada tiap meja dan mengerjakannya untuk jangka waktu terttentu (misal 3 menit). Siswa bisda nmngerjakan lebbih dari satu soal dan hasilnya diperik\sa dan dinilai, sehingga diperoleh skor turnamen untuk tiap individu dan sekaligus skor kelompok asal. Siswa pada tiap meja tunamen sesua dengan skor yang dip[erolehnay diberikan sebutan (gelar) superior, very good, good, medium.

d. Bumping, pada turnamen kedua ( begitu juga untuk turnamen ketiga-keempat dst.), dilakukan pergeseran tempat duduk pada meja turnamen sesuai dengan sebutan gelar tadi, siswa superior dalam kelompok meja turnamen yang sama, begitu pula untuk meja turnamen yang lainnya diisi oleh siswa dengan gelar yang sama.

e. Setelah selesai hitunglah skor untuk tiap kelompok asal dan skor individual, berikan penghargaan kelompok dan individual.

14. VAK (Visualization, Auditory, Kinestetic)

Model pebelajaran ini menganggap bahwa pembelajaran akan efektif dengan memperhatikan ketiga hal tersebut di atas, dengan perkataan lain manfaatkanlah potensi siwa yang telah dimilikinya dengan melatih, mengembangkannya. Istilah tersebut sama halnya dengan istilah pada SAVI, dengan somatic ekuivalen dengan kinesthetic.

15. AIR (Auditory, Intellectualy, Repetition)

Model pembelajaran ini mirip dengan SAVI dan VAK, bedanya hanyalah pada Repetisi yaitu pengulangan yang bermakna pendalama, perluasan, pemantapan dengan cara siswa dilatih melalui pemberian tugas atau quis.

16. TAI (Team Assisted Individualy)

Terjemahan bebas dari istilah di atas adalah Bantuan Individual dalam Kelompok (BidaK) dengan karateristirk bahwa (Driver, 1980) tanggung jawab vbelajar adalah pada siswa. Oleh karena itu siswa harus membangun pengetahuan tidak menerima bentuk jadi dari guru. Pola komunikasi guru-siswa adalah negosiasi dan bukan imposisi-intruksi.

Sintaksi BidaK menurut Slavin (1985) adalah: (1) buat kelompok heterogen dan berikan bahan ajar berupak modul, (2) siswa belajar kelompok dengan dibantu oleh siswa pandai anggota kelompok secara individual, saling tukar jawaban, saling berbagi sehingga terjadi diskusi, (3) penghargaan kelompok dan refleksi serta tes formatif.

17. STAD (Student Teams Achievement Division)

STAD adalah salah sati model pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan, buat kelompok heterogen (4-5 orang), diskusikan bahan belajar-LKS-modul secara kolabratif, sajian-presentasi kelompok sehingga terjadi diskusi kelas, kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa atau kelompok, umumkan rekor tim dan individual dan berikan reward.

18. NHT (Numbered Head Together)

NHT adalah salah satu tipe dari pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan, buat kelompok heterogen dan tiap siswa memiliki nomor tertentu, berikan persoalan materi bahan ajar (untuk tiap kelompok sama tapi untuk tiap siswa tidak sama sesuai dengan nomor siswa, tiasp siswa dengan nomor sama mendapat tugas yang sama) kemudian bekerja kelompok, presentasi kelompok dengan nomnor siswa yang sama sesuai tugas masing-masing sehingga terjadi diskusi kelas, kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa, umumkan hasil kuis dan beri reward.

19. Jigsaw

Model pembeajaran ini termasuk pembelajaran koperatif dengan sintaks sepeerti berikut ini. Pengarahan, informasi bahan ajar, buat kelompok heterogen, berikan bahan ajar (LKS) yang terdiri dari beberapa bagian sesuai dengan banyak siswa dalam kelompok, tiap anggota kelompok bertugas membahasa bagian tertentu, tuiap kelompok bahan belajar sama, buat kelompok ahli sesuai bagian bahan ajar yang sama sehingga terjadi kerja sama dan diskusi, kembali ke kelompok aasal, pelaksnaa tutorial pada kelompok asal oleh anggotan kelompok ahli, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.

20. TPS (Think Pairs Share)

Model pembelajaran ini tergolong tipe koperatif dengan sintaks: Guru menyajikan materi klasikal, berikan persoalan kepada siswa dan siswa bekerja kelompok dengan cara berpasangan sebangku-sebangku (think-pairs), presentasi kelompok (share), kuis individual, buat skor perkembangan tiap siswa, umumkan hasil kuis dan berikan reward.

21. GI (Group Investigation)

Model koperatif tipe GI dengan sintaks: Pengarahan, buat kelompok heterogen dengan orientasi tugas, rencanakan pelaksanaan investigasi, tiap kelompok menginvestigasi proyek tertentu (bisa di luar kelas, misal mengukur tinggi pohon, mendata banyak dan jenis kendaraan di dalam sekolah, jenis dagangan dan keuntungan di kantin sekolah, banyak guru dan staf sekolah), pengoalahn data penyajian data hasi investigasi, presentasi, kuis individual, buat skor perkem\angan siswa, umumkan hasil kuis dan berikan reward.

22. MEA (Means-Ends Analysis)

Model pembelajaran ini adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan sintaks: sajikan materi dengan pendekatan pemecahan masalah berbasis heuristic, elaborasi menjadi sub-sub masalah yang lebih sederhana, identifikasi perbedaan, susun sub-sub masalah sehingga terjadli koneksivitas, pilih strategi solusi

23. CPS (Creative Problem Solving)

Ini juga merupakan variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah melalui teknik sistematik dalam mengorganisasikan gagasan kreatif untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Sintaksnya adalah: mulai dari fakta aktual sesuai dengan materi bahan ajar melalui tanya jawab lisan, identifikasi permasalahan dan fokus-pilih, mengolah pikiran sehingga muncul gagasan orisinil untuk menentukan solusi, presentasi dan diskusi.

24. TTW (Think Talk Write)

Pembelajaran ini dimulai dengan berpikir melalui bahan bacaan (menyimak, mengkritisi, dan alternative solusi), hasil bacaannya dikomunikasikan dengan presentasi, diskusi, dan kemudian buat laopran hasil presentasi. Sinatknya adalah: informasi, kelompok (membaca-mencatatat-menandai), presentasi, diskusi, melaporkan.

25. TS-TS (Two Stay – Two Stray)

Pembelajaran model ini adalah dengan cara siswa berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan kelompok lain. Sintaknya adalah kerja kelompok, dua siswa bertamu ke kelompok lain dan dua siswa lainnya tetap di kelompoknya untuk menerima dua orang dari kelompok lain, kerja kelompok, kembali ke kelompok asal, kerja kelompok, laporan kelompok.

26. CORE (Connecting, Organizing, Refleting, Extending)

Sintaknya adalah (C) koneksi informasi lama-baru dan antar konsep, (0) organisasi ide untuk memahami materi, (R) memikirkan kembali, mendalami, dan menggali, (E) mengembangkan, memperluas, menggunakan, dan menemukan.

27. SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review)

Pembelajaran ini adalah strategi membaca yang dapat mengembangkan meta kognitif siswa, yaitu dengan menugaskan siswa untuk membaca bahan belajar secara seksama-cermat, dengan sintaks: Survey dengan mencermati teks bacaan dan mencatat-menandai kata kunci, Question dengan membuat pertanyaan (mengapa-bagaimana, darimana) tentang bahan bacaan (materi bahan ajar), Read dengan membaca teks dan cari jawabanya, Recite dengan pertimbangkan jawaban yang diberikan (cartat-bahas bersama), dan Review dengan cara meninjau ulang menyeluruh

28. SQ4R (Survey, Question, Read, Reflect, Recite, Review)

SQ4R adalah pengembangan dari SQ3R dengan menambahkan unsur Reflect, yaitu aktivitas memberikan contoh dari bahan bacaan dan membayangkan konteks aktual yang relevan.

29. MID (Meaningful Instructionnal Design)

Model ini adalah pembnelajaran yang mengutyamakan kebermaknaan belajar dan efektifivitas dengan cara membuat kerangka kerja-aktivitas secara konseptual kognitif-konstruktivis. Sintaknya adalah (1) lead-in dengan melakukan kegiatan yang terkait dengan pengalaman, analisi pengalaman, dan konsep-ide; (2) reconstruction melakukan fasilitasi pengalaan belajar; (3) production melalui ekspresi-apresiasi konsep

30. KUASAI

Pembelajaran akan efektif dengan melibatkan enam tahap berikut ini, Kerangka pikir untuk sukses, Uraikan fakta sesuai dengan gaya belajar, Ambil pemaknaan (mengetahui-memahami-menggunakan-memaknai), Sertakan ingatan dan hafalkan kata kunci serta koneksinya, Ajukan pengujian pemahaman, dan Introspeksi melalui refleksi diri tentang gaya belajar.

31. CRI (Certainly of Response Index)

CRI digunakan untuk mengobservasi proses pembelajaran yang berkenaan dengan tingkat keyakinan siswa tentang kemampuan yang dimilkinya untuk memilih dan menggunakan pengetahuan yang telah dimilikinya. Hutnal (2002) mengemukakan bahwa CRI menggunakan rubric dengan penskoran 0 untuk totally guested answer, 1 untuk amost guest, 2 untuk not sure, 3 untuk sure, 4 untuk almost certain, dn 5 untuk certain.

32. DLPS (Double Loop Problem Solving)

DPLS adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan penekanan pada pencarian kausal (penyebab) utama daritimbulnya masalah, jadi berkenaan dengan jawaban untuk pertanyaan mengapa. Selanutnya menyelesaikan masalah tersebut dengan cara menghilangkan gap uyang menyebabkan munculnya masalah tersebut.

Sintaknya adalah: identifkasi, deteksi kausal, solusi tentative, pertimbangan solusi, analisis kausal, deteksi kausal lain, dan rencana solusi yang terpilih. Langkah penyelesdai maslah sebagai berikurt: menuliskan pernyataan masalah awal, mengelompokkan gejala, menuliskan pernyataan masalah yang telah direvisi, mengidentifikasui kausal, imoplementasi solusi, identifikasi kausal utama, menemukan pilihan solusi utama, dan implementasi solusi utama.

33. DMR (Diskursus Multy Reprecentacy)

DMR adalah pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan, penggunaan, dan pemanfaatan berbagai representasi dengan setting kelas dan kerja kelompok. Sintaksnya adalah: persiapan, pendahuluan, pengemabangan, penerapan, dan penutup.

34. CIRC (Cooperative, Integrated, Reading, and Composition)

Terjemahan bebas dari CIRC adalah komposisi terpadu membaca dan menulis secara koperatif –kelompok. Sintaksnya adalah: membentuk kelompok heterogen 4 orang, guru memberikan wacana bahan bacaan sesuai dengan materi bahan ajar, siswa bekerja sama (membaca bergantian, menemukan kata kunci, memberikan tanggapan) terhadap wacana kemudian menuliskan hasil kolaboratifnya, presentasi hasil kelompok, refleksi.

35. IOC (Inside Outside Circle)

IOC adalah mode pembelajaran dengan sistim lingkaran kecil dan lingkaran besar (Spencer Kagan, 1993) di mana siswa saling membagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda dengan ssingkat dan teratur. Sintaksnya adalah: Separu dari sjumlah siswa membentuk lingkaran kecil menghadap keluar, separuhnya lagi membentuk lingkaran besar menghadap ke dalam, siswa yang berhadapan berbagi informasi secara bersamaan, siswa yang berada di lingkran luar berputar keudian berbagi informasi kepada teman (baru) di depannya, dan seterusnya

36. Tari Bambu

Model pembelajaran ini memberuikan kesempatan kepada siswa untuk berbagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda secara teratur. Strategi ini cocok untuk bahan ajar yang memerlukan pertukartan pengalaman dan pengetahuan antar siswa. Sintaksnya adalah: Sebagian siswa berdiri berjajar di depoan kelas atau di sela bangku-meja dan sebagian siswa lainnya berdiri berhadapan dengan kelompok siswa opertama, siswa yang berhadapan berbagi pengalkaman dan pengetahuan, siswa yang berdiri di ujung salah satui jajaran pindah ke ujunug lainnya pada jajarannya, dan kembali berbagai informasi.

37. Artikulasi

Artikulasi adlah mode pembelajaran dengan sintaks: penyampaian konpetensi, sajian materi, bentuk kelompok berpasangan sebangku, salah satu siswa menyampaikan materi yang baru diterima kepada pasangannya kemudian bergantian, presentasi di depan hasil diskusinya, guru membimbing siswa untuk menyimpulkan.

38. Debate

Debat adalah model pembalajaranb dengan sisntaks: siswa menjadi 2 kelompok kemudian duduk berhadapan, siswa membaca materi bahan ajar untuk dicermati oleh masing-masing kelompok, sajian presentasi hasil bacaan oleh perwakilan salah satu kelompok kemudian ditanggapi oleh kelompok lainnya begitu setrusnya secara bergantian, guru membimbing membuat kesimpulan dan menambahkannya biola perlu.

39. Role Playing

Sintak dari model pembelajaran ini adalah: guru menyiapkan scenario pembelajaran, menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari scenario tersebut, pembentukan kelompok siswa, penyampaian kompetensi, menunjuk siswa untuk melakonkan scenario yang telah dipelajarinya, kelompok siswa membahas peran yang dilakukan oleh pelakon, presentasi hasil kelompok, bimbingan penimpoulan dan refleksi.

40. Talking Stick

Suintak p[embelajana ini adalah: guru menyiapkan tongkat, sajian materi pokok, siswa mebaca materi lengkap pada wacana, guru mengambil tongkat dan memberikan tongkat kepada siswa dan siswa yang kebagian tongkat menjawab pertanyaan dari guru, tongkat diberikan kepad siswa lain dan guru memberikan petanyaan lagi dan seterusnya, guru membimbing kesimpulan-refleksi-evaluasi.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 22, 2008 in KONSTRUKTIVISM, Uncategorized

 

teori-piaget_s-tentang-perkembangan-intelektual.ppt

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 3, 2008 in Uncategorized

 

PEMBELAJARAN DENGAN kONSTRUKTIVISM

Filsafat Kontruktivis dan Pembelajaran Kontekstual

Pada bagian ini akan diuraikan beberapa pendekatan baru dalam pembelajaran matematika yang relevan dengan paradigma baru pendidikan sebagaimana dijelaskan di atas. Pedekatan terebut adalah: konstruktivis dan pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning).

 

Konstruktivis

Menurut faham konstruktivis pengetahuan merupakan konstruksi (bentukan) dari orang yang mengenal sesuatu (skemata). Pengetahuan tidak bisa ditransfer dari guru kepada orang lain, karena setiap orang mempunyai skema sendiri tentang apa yang diketahuinya. Pembentukan pengetahuan merupakan proses kognitif di mana terjadi proses asimilasi dan akomodasi untuk mencapai suatu keseimbangan sehingga terbentuk suatu skema (jamak: skemata) yang baru.  Seseorang yang belajar itu berarti membentuk pengertian atau pengetahuan secara aktif dan terus-menerus (Suparno, 1997).

            Prinsip-prinsip kontruktivisme banyak digunakan dalam pembelajaran sains dan matematika. Prinsip-prinsip yang diambil adalah (1) pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri, baik secara personal maupun sosial, (2) pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke siswa, kecuali hanya dengan keaktifan siswa sendiri untuk menalar, (3) murid aktif mengkonstruksi terus-menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep menuju konsep yang lebih rinci, lengkap, serta sesuai dengan konsep ilmiah, (4) guru sekadar membantu penyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi siswa berjalan mulus (Suparno, 1997).

            Menurut filsafat konstruktivis berpikir yang baik adalah lebih penting daripada mempunyai jawaban yang benar atas suatu persoalan yang dipelajari. Seseorang yang mempunyai cara berpikir yang baik, dalam arti bahwa cara berpikirnya dapat digunakan untuk menghadapi fenomen baru, akan dapat menemukan pemecahan dalam menghadapi persoalan lain (Suparno, 1997).

            Seringkali diungkapkan bahwa menurut paradigma baru pendidikan peran guru harus diubah, yaitu tidak sekedar menyampaikan materi pelajaran kepada para siswanya, tetapi harus mampu menjadi mediator dan fasilitator. Fungsi mediator dan fasilitator dapat dijabarkan dalam beberapa tugas sebagai berikut.

1.      Menyediakan pengalaman belajar yang memeungkinkan siswa bertanggung jawab dalam membuat rancangan, proses, dan penelitian. Karena itu memberi ceramah bukanlah tugas utama seorang guru.

2.      Menyediakan atau memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang keingintahuan siswa dan membantu mereka untuk mengekspresikan gagasan-gagasannya dan mengkomunikasikan ide ilmiah mereka (Watt & Pope, 1989). Menyediakan sarana yang merangsang siswa berpikir secara produktif. Menyediakan kesempatan dan pengalaman yang paling mendukung proses belajar siswa. Guru harus menyemangati siswa. Guru perlu menyediakan pengalaman konflik (Tobin, Tippins, & Gallard, 1994).

3.      Memonitor, mengevaluasi, dan menunjukkan apakah pemikiran si siswa jalan atau tidak. Guru menunjukkan dan mempertanyakan apakah pengetahuan siswa itu berlaku untuk menghadapi persoalan baru yang berkaitan. Guru membantu mengevaluasi hipotesis dan kesimpulan siswa. (Suparno, 1997).

Agar peran dan tugas tersebut berjalan dengan optimal, diperlukan beberapa kegiatan yang perlu dikerjakan dan juga beberapa pemikiran yang perlu disadari oleh pengajar.

1.      Guru perlu banyak berinteraksi dengan siswa untuk lebih mengerti apa yang sudah mereka ketahui dan pikirkan.

2.      Tujuan dan apa yang akan dibuat di kelas sebaiknya dibicarakan bersama sehingga siswa sungguh terlibat.

3.      Guru perlu mengerti pengalaman belajar mana yang lebih sesuai dengan kebutuhan siswa. Ini dapat dilakukan dengan berpartisipasi sebagai pelajar juga di tengah pelajar.

4.      Diperlukan keterlibatan dengan siswa yang sedang berjuang dan kepercayaan terhadap siswa bahwa mereka dapat belajar.

5.      Guru perlu mempunyai pemikiran yang fleksibel untuk dapat mengerti dan menghargai pemikiran siswa, karena kadang siswa berpikir berdasarkan pengandaian yang tidak diterima guru. (Suparno, 1997).

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 3, 2008 in KONSTRUKTIVISM