RSS

12 Jun

MATEMATIKA KONSTRUKTIVISTIK

Pembelajaran Matematika Beracuan Konstruktivisme

Oleh : Hendra Wadi

Guru SMA N 1 Muara Beliti

Model pembelajaran konstruktivisme sering diartikan sepenuhnya berseberangan dengan model pembelajaran behavior. Pembelajaran beracuan psikologi behavioristik menekankan pada perubahan tingkah laku siswa setelah memperoleh perlakuan pembelajaran. Pembelajaran dipandang sebagai suatu proses perubahan atau kondisi tingkah laku yang dapat diamati sebagai hasil respon individu terhadap rangsang yang terjadi di suatu lingkungan. Benak siswa dipandang sebagai kapal kosong, suatu tabula rasa yang dapat diisi atau sebagai kaca yang merefleksikan realita.

Pembelajaran beracuan behaviorisme berpusat pada upaya siswa mengumpulkan pengetahuan dan guru berupaya mentransfernya. Dalam mentransfer pengetahuan ini, menjadikan siswa bersifat pasif, guru mengarahkan dan mengkontrol kegiatan, dan guru mendominasi kelas dengan pola mengajar sebagai berikut: informasi-contoh soal-latihan sesuai contoh. Pembelajaran matematika beracuan behaviorisme dipandang kurang berhasil dan menjadikan siswa bersifat menghapal matematika (Hudoyo, 2005; Marpaung, 2003).

Pembelajaran menurut konstruktivisme pengetahuan dibangun secara aktif oleh individu berdasar pengalaman sendiri (Doolittle dan camp, 1999). Menurut Nodding, 1990) konstruktivisme dapat dikarakteristikkan sebagai posisi kognisi. Konstruktivisme mempercayai bahwa pengetahuan dikonstruksi dan instrumen untuk mengkonstruksi termasuk struktur kognisi yang bersifat bawaan (Chomky dalam Nodding, 1990) atau dirinya sendiri menghasilkan konstruksi pengembangan (Piaget dalam Nodding, 1990).

Melalui pengalaman memungkinkan siswa menciptakan skema di benaknya. Skema-skema ini dapat berubah, diperluas melalui proses asimilasi dan akomodasi. Ide pokok yang mendasari teori pembelajaran konstruktivisme bukan baru. Diawali oleh pendapat Socrates yang menyatakan terdapat kondisi dasar untuk pembelajaran di dalam kognisi individu. Tetapi yang mempengaruhi perkembangan konstruktivis sampai saat ini adalah teori perkembangan intelektual Piaget (Kanuka dan Anderson dalam Clark, 2000).

Khususnya, Piaget adalah orang pertama yang menekankan proses perubahan konsep sebagai interaksi antara struktur kognitif yang dimiliki dan pengalaman baru. Selama tahun 1930 sampai 1940, konstruktivisme menjadi sorotan para pendidik di beberapa sekolah negeri di Amerika. Menurut teori konstruktivisme ini penekanan kegiatan pada siswa dari pada pada guru. Guru sebagai fasilitator atau pelatih yang membantu siswa mengkostruksi konsep-konsep dan pemecahan masalah secara mandiri. Menurut Clark (2000) penerapan konstruksivisme di sekolah terbagi menjadi dua yaitu konstruktivisme kognitif dan konstruktivisme sosial.

Pendapat Piaget ini dikenal dengan konstruktivisme kognitif, sampai sekarang banyak digunakan sebagai acuan dalam pembelajaran matematika. Konstruktivisme kognitif memiliki dua bagian utama: komponen umur dan tahapannya yang dijadikan untuk memprediksi apakah siswa dapat atau tidak dapat memahami matematika pada usia yang berbeda, dan teori perkembangan kognitif yang menjelaskan bagaimana kecakapan kognitif siswa berkembang (Clark, 2000).

Teori Piaget tentang perkembangan kognitif menyatakan bahwa manusia tidak dapat “diberi informasi” yang kemudian secara tiba-tiba dapat memahami dan menggunakannya, tetapi manusia harus “mengkonstruksi” pengetahuan mereka sendiri. Siswa membangun metematika melalui pengalaman. Konstruktivisme kognitif berbasis pada dua ide “konstruktivistik”. Pertama, ide bahwa siswa belajar secara aktif mengkonstruksi pengetahuan, tidak hanya dengan cara menerima informasi ke benaknya. Kedua, ide bahwa siswa belajar lebih efektif jika mereka terlibat dengan “mengkonstruksi” secara pribadi makna matematika (Murphy, 1997).

Pandangan konstruktivisme radikal berdasar pandangan Piaget. Glasersfled (1984) menyatakan banyak ide yang diambil dari Piaget dan mempengaruhi pandangannya sejak tahun 1970. Von Glasersfeld memandang konstruktivisme berdasar konsepsi-konsepsi pengetahuan. Berkaitan dengan pemerolehan pengetahuan pendapat von Glasersfeld berbeda secara radikal dengan konsepsi pemerolehan pengetahuan tradisional terutama dalam kaitan antara pengetahuan dan realitas. von Glasersfeld berpendapat bahwa pengetahuan dan realitas tidak memiliki nilai mutlak, dan pengetahuan diperoleh secara aktif dan dikonstruksi melalui indera atau melalui komunikasi. Gagasan tidak dapat dikomunikasikan maknanya jika disampaikan secara langsung kepada siswa, melainkan siswa sendiri yang membentuk maknanya.

Pada tahun 1930 Lev Vygotsky, ahli filsafat dan psikolog Rusia, dikaitkan dengan konstruktivis sosial. Ia menyatakan adanya pengaruh konteks sosial dan budaya dalam pembelajaran dan juga mendukung suatu model pembelajaran penemuan (Murphy, 1997). Model pembelajaran beracuan konstruktivisme sosial menuntut guru berperan aktif dan kecakapan siswa berkembang secara alami melalui berbagai jalur penemuan dalam aktivitas sosial. Model pembelajaran matematika beracuan konsturktivisme sosial, misalnya pembelajaran matematika kooperatif.

Pembelajaran matematika beracuan konstruktivisme sosial lebih menekankan pada hubungan antara individu dan lingkungan sosial dalam pembentukan pengetahuan. Heylighen (dalam Murphy, 1997) menjelaskan bahwa konstruktivisme sosial memandang kesepakatan antara subyek-subyek yang berbeda sebagai kriteria akhir untuk menentukan pengetahuan. “kebenaran” atau “realitas” akan disetujui jika dalam mengkonstruksi pengetahuan disepakati oleh banyak orang dalam kelompok sosial.

Doolittle dan Camp (1999) berpendapat bahwa akhir-akhir ini ada kecenderungan model pembelajaran dikembangkan berdasar konstruktivisme radikal dan Dalam penelitian ini dikembangkan model pembelajaran matematika beracuan konstruktivisme di samping mengacu pada ketiga epistemologi von Glasesrsfeld, yaitu konstruktivisme radikal, juga mengacu sebagian epsitemologi keempat yang dikemukakan Doolittle dan Camp (1999). Dalam pembelajaran matematika dirancang memuat kegiatan belajar yang melibatkan siswa menggunakan pola pikir induktif-deduktif. Pola pikir induktif digunakan terutama dalam proses memahami suatu konsep atau generalisasi. Pola pikir deduktif digunakan dalam pemecahan masalah misalnya dalam soal pembuktian. Namun karena beberapa pemecahan masalah memerlukan pemecahan dengan pola pikir induktif, maka dalam dalam penelitian ini menggunakan istilah penggunaan pola pikir induktif-deduktif.

Von Glasersfeld menggolongkan pandangan Piaget dalam konstruktivisme sebab bagi Piaget pengetahuan bukan representasi dari dunia nyata, tetapi merupakan kumpulan struktur-struktur konspetual yang diperoleh melalui adaptasi, dan memperoleh pengetahuan melalui pengalaman sendiri (von Galsersfeld dalam Boudorides, 1998). Boudourides (1998) menyatakan bahwa saat ini hampir semua matematikawan mengadopsi konstruktivisme Piaget, yaitu konstruktivisme yang mengacu pada psikologi kognitif Piaget.

Piaget berkaitan dengan struktur intelektual, melibatkan dua aspek konten dan fungsi. Konten mengacu pada pola tingkah laku khusus dari anak sebagai respon terhadap bermacam-macam masalah atau situasi yang dihadapi. Adapun fungsi mengacu pada cara bagaimana suatu organisme membuat mental berkembang (Hudojo, 2003: 60). Menurut Hudojo (2003) istilah “organisasi” melukiskan kemampuan organisma mengsistematiskan atau mengorganisasikan proses-proses fisik atau psikologik ke dalam sistem yang berkaitan. Berkaitan dengan pembelajaran, siswa memproses dan mengorganisir informasi dalam benaknya dalam bentuk skema (scheme). Piaget (dalam Boudorides, 1998) menyatakan pengorganisasian dalam benak membentuk skema.

Slavin (2000: 30) menyatakan siswa mendemonstrasikan pola tingkah laku dan pemikiran yang disebut skema. Hudojo (2003) menyatakan skema adalah pola tingkah laku yang dapat berulang kembali. Jadi mengacu pada kedua pendapat ini skema adalah pola tingkah laku dan pemikiran yang dapat berulang kembali. Penguasaan terhadap suatu skema baru mengindikasikan adanya perubahan di dalam struktur mental siswa. Hudojo (2003: 59) berpendapat sebenarnya skema itu adalah struktur kognitif yang digunakan oleh siswa untuk menyesuaikan dengan lingkungan dan mengorganisasikannya.

Adaptasi adalah suatu proses penyesuaian skema dalam merespon lingkungan melalui asimilasi atau akomodasi. Asimilasi adalah proses menyerap pengalaman baru berdasar pada skema yang sudah dimiliki dan akomodasi adalah proses menyerap pengalaman baru dengan cara memodifikasi skema yang sudah ada atau bahkan membentuk skema yang benar-benar baru (Hudojo, 2003: 60).

Dalam pembelajaran matematika, siswa mengkonstruksi matematika melalui proses adaptasi dan organisasi. Perkembangan struktur mental siswa bergantung pada pengetahuan yang diperoleh siswa melalui proses asimilasi dan akomodasi. Melalui asimilasi siswa memperoleh pemahaman matematika berdasar pada skema yang sudah dimiliki. Masuknya skema-skema baru dalam struktur mental siswa terutama tergantung pada akomodasi dalam menyerap dan memahami konsep, prinsip, atau struktur matematika dan mengorganisasikannya dalam struktur mental siswa.

Konstruktivisme dalam bidang pendidikan sering disebut konstruktivisme psikologik, dan terdiri dari dua tipe, yaitu konstruktivisme individu dan sosial (Pihilips dalam Boudourides, 1998). Konstruktivisme yang mengacu pada teori kognitif Piaget dan epistemologi konstruktivisme yang dikemukakan oleh von Glasersfeld termasuk tipe konstruktivisme individual (Boudouris, 1998: 1).

Meskipun pembelajaran matematika beracuam konstruktivisme yang mengacu pada psikologi kognitif Piaget tergolong dalam konstruktivisme individu, namun menurut Slavin (2000: 256) dan Copeland (1974: 32), Piaget tidak mengabaikan pentingnya interaksi sosial dalam mengkonstruk matematika. Oleh karena itu, pembelajaran matematika konstruktivistik dalam penelitian ini menekankan pada aktivitas siswa secara individu dalam mengkonstruk matematika, tetapi juga memberi peluang kepada siswa untuk berinteraksi sosial. Interaksi sosial yang terjadi di kelas dipandang sebagai aktivitas yang mendukung belajar siswa dalam mengkonstruksi matematika. Interaksi sosial ini dapat berbentuk saling tukar pendapat atau diskusi antar siswa, atau kegiatan belajar lainnya yang menjadikan terjadinya komunikasi lisan maupun tertulis antar siswa atau antara guru dan siswa.

Dalam interaksi sosial ini kemungkinan terjadi siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar terbantu oleh teman atau gurunya. Forman dan McPhail (dalam Salvin, 2000: 46) menyatakan tutor oleh teman yang lebih pandai paling efektif dalam meningkatkan perkembangan ZPD (Zone of Proximal Development). Konsep ZPD Vigotsky berdasar pada ide bahwa perkembangan pengetahuan siswa ditentukan oleh keduanya yaitu apa yang dapat dilakukan oleh siswa sendiri dan apa yang dilakukan oleh siswa ketika mendapat bantuan orang yang lebih dewasa atau teman sebaya yang lebih kompeten (Daniels dan Wertsch dalam Slavin 2000: 47). Slavin (2000) menyatakan bahwa pendekatan pembelajaran Vigotsky menekankan pada scaffolding. Wood, Bruner, dan Ross (dalam Slavin: 2000: 47) menyatakan:

Scaffolding is a tactic for helping the child in his or her zone of proximal development in which the adult provide hint and prompt at different level.

Artinya scaffolding adalah suatu taktik untuk membantu anak dalam ZPD nya yang dilakukan oleh orang lebih dewasa dengan memberi saran dan petunjuk di tingkat berbeda.

Dalam interaksi sosial dikelas, ketika terjadi saling tukar pendapat antar siswa dalam memecahkan suatu masalah, siswa yang lebih pandai memberi bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan berupa petunjuk bagaimana cara memecahkan masalah tersebut, maka terjadi scaffolding, siswa yang mengalami kesulitan tersebut terbantu oleh teman yang lebih pandai. Ketika guru membantu secukupnya kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam belajarnya, maka terjadi scaffolding.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 12, 2008 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: